Mengalun suara sampyong dan totok, pada zaman Belanda dan Tuan Tanah dahulu, suara sampyong dan totok sempat besar pengaruhnya dan aya tariknya, sampai-sampai bisa terjadi berhentinya kegiatan lain., tertarik kepada semua irama ujungan, agaknya lebih penting dan berharga ujungan dari hal-hal lainnya. Orang-orang para peminat dan penggemar ujungan berdatangan, berkumpul membentuk lingkaran, berdatangan dari banyak kampong dan dari daerah jauh.
Permainan bertempat ditengah-tengah sawah dan letaknya jauh dari kampung, diwaktu malam dibawah sinar bulan kadang-kadang dibawah sinar bulan remang-remang, tanpa lampu minyak atau listrik. Suara sampyong dan totok terus mengalun, ermuncullah penari-penari (uncul) diarena, sesuai dengan irama mencari tandingan (lawan). Kemudian tinggal satu orang lagi yang menari-nari, yang lainnya kembali kerombongannya masing-masing, menari terus menari.
Beboto yang dipilih oleh kelompok-kelompok yang hadir itu melempar dua batang rotan ketengah-tenga dua orang peminat untuk bertanding maka rotan tersebut diambil oleh mereka berdua. Hadirnya dua orang tersebut itu masing-masing berminat untuk bertanding, maka rotan tersebut tetap ditangan masing-masing.
Kemudian dua orang tersebut membawa rotannya masing-masing kekelompoknya. Diwaktu inilah terbuka kesempatan bahwa rotan itu diolah diisi dengan magis yang ada padanya masing-masing dibalur dengan ubur-ubur laut, air keras dan lain sebagainya. Kira-kira satu menit kemudian, beboto memanggil dua orang pemain itu untuk mulai bertanding. Bangkitlah kedua pemain dengan membawa rotan masing-masing.
Sebelum bertanding oleh dua orang beboto dipegang rotannya diangkat (diacungkan: bahasa Bekasi) agak keatas dan disatukan ujung rotan tersebut, pertanda pertandingan akan dimulai. Beboto memberikan komando dengan angka, satu,…dua,…tiga,.
0 komentar:
Posting Komentar
SILAHKAN MASUKAN KOMENTAR, SARAN DAN KRITIK ANDA. TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASINYA.